Perbedaan Waqaf dan Saktah dan Perbedaan Keduanya

Perbedaan waqaf dan saktah termasuk tema yang penting dalam ilmu tajwid, sebab hampir di setiap kita membaca al-quran pasti terdapat waqafnya. Memahami tempat waqaf dan ibtida menjadi salah satu tema ilmu tajwid yang sangat penting. 

perbedaan saktah dan waqaf - ilmutajwid.my.id
perbedaan saktah dan waqaf

Sebenarnya perbedaan waqaf dan saktah adalah hal yang mudah untuk dideteksi dan dipraktikkan, sebab bacaan saktah di dalam alquran hanya ada di 4 tempat. Hal ini jika kita mengikuti bacaan imam Ashim melalui riwayat Imam Hafs. 

Sebelum mempraktikkan contoh-contohnya terntang perbedaan waqaf dan saktah, Anda harus tahu terlebih dahulu apa itu waqaf dan saktah.

Pengertian Waqaf 

Jawaban dari pertanyaan apa itu waqaf atau wakaf adalah berhenti membaca alquran dengan mengambil napas. Lalu dilanjutkan membaca lagi tanpa membaca taawudz atau basmalah. 

Kata kuncinya adalah dengan mengambil napas. 

Contoh bacaan waqaf

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ - ٤

Perhatikan tanda jim kecil setelah kata qablik. Jika waqaf maka berhenti dan mengambil napas terlebih dahulu, lalu melanjutkan bacaannya. 

Boleh diulangi dari kata wa ma unzila atau langsung membaca wa bil akhirati.

Pengertian Saktah

Apa itu saktah? Saktah adalah berhenti sejenak dalam membaca al-Quran tanpa disertai pengambilan napas. Jadi, saktah adalah berhenti, namun tanpa mengambil napas. Itulah maksud saktah.

Berapa kadar berhenti dalam saktah? Kadar berhenti dalam saktah adalah dua harakat. Hal ini mengambil kadar dari panjang mad asli.

Di dalam al-Quran bacaan saktah hanya ada 4 saja, jika kita mengikuti bacaan Imam Hafs, yaitu surat Yasin, Al-Kahfi, Al-Qiyamah dan al-Muthaffifin. 

Untuk memudahkan dalam mendeteksi ke empat surat tersebut, contoh-contoh dari bacaan saktah adalah sebagai berikut:

Contoh Saktah dan Tempatnya di dalam Al-Quran

Qiraat Imam Hafs hanya ada 4 bacaan saktah di dalam al-Qur'an, jika imam yang lain lebih dari itu. Terutama qiraat imam Hamzah. Namun kita tidak akan membahas itu di sini. Mungkin, Insya Allah pada artikel yang lain. Contoh saktah di sini ada 4 tempat di dalam alquran.

1. QS. Al-Kahfi ayat 1-2

Contoh pertama bacaan saktah di dalam al-Qur'an adalah surat al-Kahfi ayat 1-2 berikut adalah ayatnya

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ - ١قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ - ٢

Artinya: 

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok (1) sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik (2)

Adanya saktah pada akhir ayat 1 agar tidak ada pembiasan atau kerancuan makna karena khawatir kata (قَيِّمًا) dianggap sebagai shifat atau naat untuk kata (عِوَجًا). Kata (قَيِّمًا) artinya lurus, sedangkan (عِوَجًا) artinya kebengkokan. Ini adalah contoh saktah yang pertama. Sedangkan untuk contoh saktah yang kedua adalah sebagai berikut. 

2. QS. Yasin ayat 52

قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ - ٥٢

Artinya:

Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya).

Bacaan saktah akan muncul apabila jika dibaca washal pada kata (مَرْقَدِنَا) langsung dilanjutkan ke (هَذَا). Tujuan adanya bacaan saktah dalam ayat ini bertujuan menjelaskan perkataan dan komentar orang-orang kafir yang berhenti di kata (مَرْقَدِنَا) lalu dilanjutkan dengan perkataan malaikat yang dimulai dari kata (هَذَا). Sehingga, kata (هَذَا) bukan sifat dari kata (مَرْقَدِنَا), bukan juga penjelas (bayan) dari huruf jer min dari kata sebelumnya. Melainkan, kata hadza menjadi mubtada’

Terdapat dua pilihan mengenai cara membaca ayat ini, yaitu waqof dan washol. 

Jika menggunakan waqof, maka berhenti di kata (مَرْقَدِنَا) dan ibtida’ dari kata (هَذَا). Apabila diwasholkan, maka diberlakukan hukum saktah.

Contoh saktah yang kedua di atas sebaiknya diperhatikan dan jangan sampai bernapas ketika membacanya. Meskipun terlihat berhenti, namun jangan mengambil napas. 

3. QS. Al-Qiyamah ayat 27

Pada contoh saktaha ayat ini harus ditetapkan bacaan saktah sebab tidak diperbolehkan waqaf pada kata (مَنْ) dan ibtida’ pada kata (رَاقٍ). 

Jadi, ayat ini harus dibaca washal dengan menerapkan hukum saktah saja.

Saktah pada ayat ini adalah untuk menjaga dibaca izhhar-nya nun mati. 

Apabila nun mati dimasukkan atau diidghomkan ke huruf ra’, maka khawatir akan dianggap menjadi kata (مَرَّاق) yang sesuai dengan wazan (فَعَّالٌ). Ini adalah salah satu bentuk lahn dalam membaca al-quran.

Surat Al Qiyamah ayat 27 yang disaktahkan yaitu pada kata (مَنْ). Ini bacaan ayatnya:

وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ - ٢٧

Artinya 

dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang dapat menyembuhkan?”

Contoh saktah yang terakhir adalah surat al-Muthaffifin berikut ini. 

4. QS. Al-Muthaffifin ayat 14

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ - ١٤

Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”

Ketika membaca surat Al-Muthaffifin ayat 14 ini, maka harus diterapkan hukum saktah pada kata (بَلْ) sebagaimana bacaan sa

ktah pada surat al-Qiyamah.

Hal ini sama seperti saktah pada surat Al Qiyamah agar tidak terjadi kesalahan makna.

Apabila tidak ada saktah, maka huruf Lam di-Idghomkan ke Ro karena termasuk idghom mutaqaribain. Orang yang tidak tahu tulisannya akan mengira (بَلْ) dan (رَانَ) adalah satu kata menjadi (بَرَّانَ). Dan ini tidak diperbolehkan membaca seperti itu.

Itulah contoh saktah yang terakhir. Semoga keempat tempat tersebut bisa lebih diperhatikan lagi.

Perbedaan Waqaf dan Saktah

Setelah kedua pembahasan dari sisi pengertian waqaf dan saktah, perbedaan antara keduanya adalah terletak pada pengambilan napas atau tidak. 

Jika waqaf, maka berhenti disertai mengambil napas, namun jika membaca saktah maka berhenti sejenak tanpa mengambil napas. 

Perbedaan paling mencolok antara waqaf dan saktah hanya terletak pada mengambil napas atau tidak. 

Jadi, untuk istilah waqaf saktah sebenarnya tidak ada atau rancu. Sebab kedua istilah tersebut tidak bisa disandingkan, justru keduanya ada perbedaan yang sangat jelas. Perbedaan tersebut menjadikan istilah waqaf saktah sebenarnya sangat keliru. 

Simpulan

Dari pengertian dan penjelasan singkat di atas, kesimpulannya sangat sederhana bahwa saktah merupakan bacaan di dalam al-Qur'an yang gharib/asing. oleh karenanya hanya ada 4 di dalam al-Qur'an.  Fungsi saktah adalah agar tidak ada kerancuan dan pembiasan makna di dalam pembacaan ayat al-Qur'an. 

Pembacaan saktah seperti ini merupakan salah satu bacaan mutawatir, jadi tidak boleh dikiaskan atau diubah-ubah cara pembacaannya. Sekian tentang artikel ilmu tajwid pembahasan saktah dan waqaf. Semoga bermanfaat.

Post a Comment for "Perbedaan Waqaf dan Saktah dan Perbedaan Keduanya"